Setahun, 2,8 Juta Hektar Hutan Rusak
Minggu, Agustus 02, 2009
CAMPLONG-Menteri Kehutanan (Menhut) RI M. S. Kaban mengajak masyarakat menyukseskan program One Man One Tree dan menghijaukan kembali hutan dan lahan yang tandus. Seruan ini disampaikan saat Kaban silaturahmi dengan ulama se Madura di Ponpes Nata Desa Prajjan, Kecamatan Camplong, Sampang, Jumat (13/3) malam.
Dikatakan, kerusakan hutan di Indonesia benar-benar memprihatinkan. Saking parahnya, masyarakat internasional mengecam pemerintahan Indonesia lewat pemberitaan di televisi maupun koran. Gelombang kecaman ini terjadi ketika Kaban baru menerima amanah dari Presiden SBY setelah ditetapkan sebagai Menhut RI.
Saat itu, kata dia, diperkirakan jumlah hutan di Indonesia yang tersisa sekitar 60 juta hektare. Sementara jumlah hutan di belahan nusantara yang rusak setiap tahun sekitar 2,8 juta hektare.
“Jika tidak segera dihijaukan kembali, 20-30 tahun lagi hutan yang ada di Indonesia bisa berubah menjadi gurun pasir yang tandus dan kering kerontang. Jika diibaratkan sebuah penyakit, hutan kita didera penyakit kanker stadium 4,” ujarnya.
Kaban bercerita pernah mengunjungi hutan yang ada di pelosok Finlandia-Inggris. Saat itu ia kaget menyimak penjelasan warga setempat yang mengungkapkan bahwa untuk mendapatkan pohon berdiameter 10 cm membutuhkan waktu sekitar 20 tahun. Padahal, di Indonesia untuk mendapatkan ukuran yang lebih besar, yaitu 30 cm, hanya membutuhkan waktu cuma 10 tahun.
“Setelah saya telusuri, ternyata fenomena tersebut disebabkan karena cuaca atau musim di Finlandia terbagi menjadi empat. Kalau di Indonesia, hanya ada ada dua musim, yakni musim kemarau dan musim penghujan,” terangnya.
Peraih gelar doktor honoris causa bidang kehutanan dari Kangwon National University of Korea ini mengimbau segenap ulama, alumni, dan santri Ponpes Nata agar bersatu padu menggalakkan gerakan penghijauan. “Kalau di Nusa Tenggara Timur kami menggalakkan penanaman kayu cendana, di empat kabupaten se Madura kami menanam pohon camplung. Sebab, kayunya bisa dijadikan minyak dan buahnya bisa dimanfaatin sebagai bahan bakar minyak,” terangnya.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Kaban mengaku sempat deg-degan. Rupanya, dia bingung apakah jadi berangkat ke Ponpes Nata atau tidak. Pertimbangannya, acara kunjungan cukup padat kendati waktu yang dimiliki sangat mepet. Setelah mempertimbangkan cukup matang, akhirnya memutuskan datang.
“Sebab, saya sudah kadung terlanjur janji datang kepada Ibu Nyai Hj Nurjihan (ibunda KH Muhammad Mu’afi, Red). Akhirnya, dengan bacaan basmalah saya meluncur ke Prajjan,” katanya.
Sementara Pengasuh Ponpes Nata KH Muhammad Mu’afi menyampaikan terima kasih kepada Kaban yang telah hadir dan menyempatkan waktu dalam acara silaturahmi. “Kehadiran beliau (Kaban, Red) semata-mata ingin mempererat silaturahmi. Apalagi, istri beliau ternyata masih ada hubungan keluarga dengan ibunda saya,” katanya. (yan/advertorial)
Sumber : Jawa Pos / Minggu, 15 Maret 2009
Sumber...
Dikatakan, kerusakan hutan di Indonesia benar-benar memprihatinkan. Saking parahnya, masyarakat internasional mengecam pemerintahan Indonesia lewat pemberitaan di televisi maupun koran. Gelombang kecaman ini terjadi ketika Kaban baru menerima amanah dari Presiden SBY setelah ditetapkan sebagai Menhut RI.
Saat itu, kata dia, diperkirakan jumlah hutan di Indonesia yang tersisa sekitar 60 juta hektare. Sementara jumlah hutan di belahan nusantara yang rusak setiap tahun sekitar 2,8 juta hektare.
“Jika tidak segera dihijaukan kembali, 20-30 tahun lagi hutan yang ada di Indonesia bisa berubah menjadi gurun pasir yang tandus dan kering kerontang. Jika diibaratkan sebuah penyakit, hutan kita didera penyakit kanker stadium 4,” ujarnya.
Kaban bercerita pernah mengunjungi hutan yang ada di pelosok Finlandia-Inggris. Saat itu ia kaget menyimak penjelasan warga setempat yang mengungkapkan bahwa untuk mendapatkan pohon berdiameter 10 cm membutuhkan waktu sekitar 20 tahun. Padahal, di Indonesia untuk mendapatkan ukuran yang lebih besar, yaitu 30 cm, hanya membutuhkan waktu cuma 10 tahun.
“Setelah saya telusuri, ternyata fenomena tersebut disebabkan karena cuaca atau musim di Finlandia terbagi menjadi empat. Kalau di Indonesia, hanya ada ada dua musim, yakni musim kemarau dan musim penghujan,” terangnya.
Peraih gelar doktor honoris causa bidang kehutanan dari Kangwon National University of Korea ini mengimbau segenap ulama, alumni, dan santri Ponpes Nata agar bersatu padu menggalakkan gerakan penghijauan. “Kalau di Nusa Tenggara Timur kami menggalakkan penanaman kayu cendana, di empat kabupaten se Madura kami menanam pohon camplung. Sebab, kayunya bisa dijadikan minyak dan buahnya bisa dimanfaatin sebagai bahan bakar minyak,” terangnya.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Kaban mengaku sempat deg-degan. Rupanya, dia bingung apakah jadi berangkat ke Ponpes Nata atau tidak. Pertimbangannya, acara kunjungan cukup padat kendati waktu yang dimiliki sangat mepet. Setelah mempertimbangkan cukup matang, akhirnya memutuskan datang.
“Sebab, saya sudah kadung terlanjur janji datang kepada Ibu Nyai Hj Nurjihan (ibunda KH Muhammad Mu’afi, Red). Akhirnya, dengan bacaan basmalah saya meluncur ke Prajjan,” katanya.
Sementara Pengasuh Ponpes Nata KH Muhammad Mu’afi menyampaikan terima kasih kepada Kaban yang telah hadir dan menyempatkan waktu dalam acara silaturahmi. “Kehadiran beliau (Kaban, Red) semata-mata ingin mempererat silaturahmi. Apalagi, istri beliau ternyata masih ada hubungan keluarga dengan ibunda saya,” katanya. (yan/advertorial)
Sumber : Jawa Pos / Minggu, 15 Maret 2009
Sumber...
Posting Komentar
Untuk informasi lebih lanjut
hubungai segera
sobat evolusi.net
Jl. Imam Bonjol 21 H
Sampang-Madura-Jawa Timur-Indonesia 69212
email : sampang.bahari@yahoo.com