Temukan Penderita Hipospadi
Minggu, Agustus 02, 2009
SAMPANG-Sunatan gratis yang diselanggrakan Akper Nata di Ponpes Nahdzatut Thullab Prajjan, Kecamatan Camplong kemarin (27/7) bernilai lebih. Sebab dari aksi sosial tersebut juga ditemukan seorang penderita Hipospadi.
Dalam ilmu kedokteran, Hipospadi adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak. Yaitu berupa gangguan kelamin pada urugenital. Biasanya, lubang uretra (lubang kencing) harus terletak di ujung penis. Tapi pada penderita Hipospadi, lubang kencingnya terletak di tengah penis atau di tengah testis.
Jadi, penderitanya harus di-repair. Salah satunya dengan penanganan operasi hipospadia. Hanya pengelolaanya harus dilakukan oleh mereka yang betul-betul ahli. Supaya hasilnya memuaskan.
Penderita Hipospadi dimaksud adalah Taufiq, salah seorang anak gakin dari Desa Prajjen Utara yang tercaat sebagai peserta sunatan gratis.
Tim medis yang bertanggung jawab pada kegiatan tersebut, langsung merujuk Taufik ke Rumah Sakit Tipe A di Surabaya. "Kami tidak bisa melakukan sesuatu, lubang uretra Taufiq ada di bagian bawah, bukan di tengah. Jadi terpaksa kita rujuk ke rumah sakit saja," terang Ahmadi, S. Kep. ketua tim medis kegiatan sunatan gratis tersebut.
Menurut Ahmadi, jika Taufiq langsung dirujuk ke rumah sakit, penanganannya bias lebih dini. Sehingga tidak akan berbahaya. "Penis Taufiq harus direkontruksi agar kembali normal. Sehingga aliran kencingnya nanti arahnya ke depan. Itu harus menggunakan general anastesi," terangnya.
Karena itu, pihak penyelenggara sunatan gratis dari Akper Nata enggan melaksanakan sunatan pada Taufiq. Sebab pihak penyelenggara enggan menanggung resiko yang besar. Padahal bapak sang anak bersikeras memasrahkan nasib Taufiq pada penyelenggara sunatan gratis tersebut.
"Kita menghindari resiko saja. Meski tetap memaksa, kita upayakan memberi pengertian lebih dulu. Maklum mereka masih awam," ujar Agus Marzuki, Sekretaris Akper Nata.
Senada dengan Agus, Ny. Hj Zairina selaku Ketua STIT Nata (Sekolah tinggi Ilmu Tarbiyah Nazhatut Thullab) Sampang yang turut berada di lokasi juga menyarankan pihak keluarga untuk merujuk sang anak pada yang lebih ahli. "Kalau terjadi sesuatu pada anak tersebut, siapa yang akan bertanggung jawab," ujar Zairina.
Sebab, lanjut Zairina, kegiatan sunatan gratis tersebut adalah bagian dari bhakti perguruan tinggi kepada masyarakat. "Kalau ternyata berbuntut panjang dan merugikan masyarakat, itu artinya kita gagal membaktikan diri pada masyarakat," jelas Zairina.
Sekadar diketahui, kegiatan sunatan gratis hampir setiap tahun dilakukan oleh Akper Nata menjelang haul pengasuh Ponpes Nahdzatut Thullab. Pada sunatan gratis kemarin, menurunkan 10 tim medis dan paramedis. Sebanyak 27 anak dari kalangan keluarga miskin (gakin) mendaftarkan diri. Mereka memenuhi lokasi sunatan gratis di pendopo Al-Kamal yang berada di lokasi ponpes. (ri/ed)
Sumber...
Dalam ilmu kedokteran, Hipospadi adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak. Yaitu berupa gangguan kelamin pada urugenital. Biasanya, lubang uretra (lubang kencing) harus terletak di ujung penis. Tapi pada penderita Hipospadi, lubang kencingnya terletak di tengah penis atau di tengah testis.
Jadi, penderitanya harus di-repair. Salah satunya dengan penanganan operasi hipospadia. Hanya pengelolaanya harus dilakukan oleh mereka yang betul-betul ahli. Supaya hasilnya memuaskan.
Penderita Hipospadi dimaksud adalah Taufiq, salah seorang anak gakin dari Desa Prajjen Utara yang tercaat sebagai peserta sunatan gratis.
Tim medis yang bertanggung jawab pada kegiatan tersebut, langsung merujuk Taufik ke Rumah Sakit Tipe A di Surabaya. "Kami tidak bisa melakukan sesuatu, lubang uretra Taufiq ada di bagian bawah, bukan di tengah. Jadi terpaksa kita rujuk ke rumah sakit saja," terang Ahmadi, S. Kep. ketua tim medis kegiatan sunatan gratis tersebut.
Menurut Ahmadi, jika Taufiq langsung dirujuk ke rumah sakit, penanganannya bias lebih dini. Sehingga tidak akan berbahaya. "Penis Taufiq harus direkontruksi agar kembali normal. Sehingga aliran kencingnya nanti arahnya ke depan. Itu harus menggunakan general anastesi," terangnya.
Karena itu, pihak penyelenggara sunatan gratis dari Akper Nata enggan melaksanakan sunatan pada Taufiq. Sebab pihak penyelenggara enggan menanggung resiko yang besar. Padahal bapak sang anak bersikeras memasrahkan nasib Taufiq pada penyelenggara sunatan gratis tersebut.
"Kita menghindari resiko saja. Meski tetap memaksa, kita upayakan memberi pengertian lebih dulu. Maklum mereka masih awam," ujar Agus Marzuki, Sekretaris Akper Nata.
Senada dengan Agus, Ny. Hj Zairina selaku Ketua STIT Nata (Sekolah tinggi Ilmu Tarbiyah Nazhatut Thullab) Sampang yang turut berada di lokasi juga menyarankan pihak keluarga untuk merujuk sang anak pada yang lebih ahli. "Kalau terjadi sesuatu pada anak tersebut, siapa yang akan bertanggung jawab," ujar Zairina.
Sebab, lanjut Zairina, kegiatan sunatan gratis tersebut adalah bagian dari bhakti perguruan tinggi kepada masyarakat. "Kalau ternyata berbuntut panjang dan merugikan masyarakat, itu artinya kita gagal membaktikan diri pada masyarakat," jelas Zairina.
Sekadar diketahui, kegiatan sunatan gratis hampir setiap tahun dilakukan oleh Akper Nata menjelang haul pengasuh Ponpes Nahdzatut Thullab. Pada sunatan gratis kemarin, menurunkan 10 tim medis dan paramedis. Sebanyak 27 anak dari kalangan keluarga miskin (gakin) mendaftarkan diri. Mereka memenuhi lokasi sunatan gratis di pendopo Al-Kamal yang berada di lokasi ponpes. (ri/ed)
Sumber...
Posting Komentar
Untuk informasi lebih lanjut
hubungai segera
sobat evolusi.net
Jl. Imam Bonjol 21 H
Sampang-Madura-Jawa Timur-Indonesia 69212
email : sampang.bahari@yahoo.com