Ketika Warga Madura di Surabaya Berkumpul
Minggu, April 26, 2009
(Senin, 27 April 2009 10:37:48)
Mengenal Sumiarso, Pandai Besi asal Kampung Kranggan, Kota Sampang
Jika ditilik dari silsilah keluarga, Sumiarso merupakan generasi ketiga dari keluarga yang berprofesi pandai besi. Sebab sebelumnya, Dra'i kakeknya dan ayahandanya Indro dikenal sebagai pandai besi ulung di Kota Bahari. Kendati profesi yang ditekuni berasal dari pendahulunya, Sumiarso enggan menularkan ilmu dan kepiawaiannya mereparasi beraneka ragam peralatan dari besi tersebut kepada anak-anaknya. Mengapa?
HARIYANTO, Sampang
BAGI pelanggan setia Sumiarso, tentunya tidak terlalu sulit mendatangi 'kantornya'. Sebab, lokasinya persis berada di belakang rumah makan di Jalan Jamaluddin. Atau persisnya di sebelah selatan kantor Pemkab Sampang.
Tapi bagi mereka yang belum pernah ke lokasi sama sekali, mungkin akan sedikit bingung. Maklum saja, tempat reparasi pandai besi ini berada di tengah-tengah sawah.
Dari kejauhan, mungkin masyarakat tidak menyadari bahwa ‘gubuk' yang ditempati Sumiarso merupakan pusat reparasi beragam alat pertanian dan pertukangan. Tapi jika mendekat, siapapun akan sadar bahwa bapak tujuh anak ini sedang sibuk memperbaiki cangkul, arit, linggis, kapak, dan mata pisau bajak sawah.
Bahkan saat koran ini ke lokasi, tampak beberapa orang yang diketahui pelanggan Sumiarso. Mereka tampak sabar menunggu di kursi yang memang tersedia.
Setiap hari, raungan mesin gerinda elektronik mengeluarkan letupan kembang api menghiasi hari-hari warga Jalan Merpati, Kampung Kranggan, Kelurahan Gunong Sekar, Kecamatan Kota Sampang tersebut. Termasuk suara dentang yang lumayan nyaring saat palu yang diayun beradu dengan besi alas (parron).
Kendati tidak menggunakan kacamata pelindung dan sarung tangan pengaman, suami Sumiati ini tampak sigap membalikkan besi yang dibenamkan di tungku pemanas. Setelah dirasa cukup panas, Sumiarso kemudian mengambil lempengan besi dan meratakannya dengan palu aneka bentuk. Beberapa saat kemudian, lempengan besi berbentuk cangkul tersebut dicelupkan ke bak berisi air dan oli. Begitu didinginkan, bagian depan cangkul tersebut lalu dipertajam menggunakan mesin gerinda.
Saat melakoni profesinya, Sumiarso dibantu seorang asistennya yang notebene kakak kandungnya yang bernama Muayyanah. "Saya orangnya sangat hati-hati dalam bekerja. Sebab, ini sudah menyangkut kepuasan pelanggan. Kalau pekerjaan saya kurang bagus, tentunya pelanggan kecewa," ujarnya.
Menurut kakek yang dikarunia seorang cucu ini, pekerjaan tersebut digeluti sejak ia duduk di bangku kelas II SD atau saat berusia 8 tahun. Saat itu, ia diajari ilmu pandai besai dari ayahnya. "Setelah sekian tahun belajar, pada usia 25 tahun saya akhirnya dianggap bisa meneruskan usaha bapak. Jadi, profesi yang kami tekuni merupakan warisan leluhur," ceritanya.
Dibanding dulu, lanjut dia, peralatan yang digunakan guna mendukung pekerjaan tersebut terbilang lebih modern. Sebab ketika diajari ayahnya, ia dulu menggunakan pompa manual guna memanaskan tungku. "Tapi karena teknologi sekarang sudah canggih, tahun 2002 kami menggunakan kipas angin biar lebih cepat," katanya.
Guna memperlancar pekerjaannya, ada beberapa bahan-baku yang digunakan. Misalnya arang, oli, air, pompa angin. Termasuk, mesin penajam besi. "Dibanding dulu, durasi pekerjaannya lebih cepat. Tapi, harus konsentrasi dan menggunakan dengan hati-hati agar lempengan besi tidak dilubangi api," ingatnya.
Dalam kesempatan ini, ia menegaskan tidak akan mewariskan ilmu pandai besi kepada putranya. Sebab, ia menilai pekerjaan tersebut sangat berat. "Saya akan berhenti setelah tidak ada pelanggan. Artinya, saya akan berhenti kalau hasil kerja saya sudah tidak diminati lagi oleh pelanggan," tegasnya ketika ditanya kapan pensiun. (hariyanto/ed)
Enggan Mengajukan Bantuan ke Pemerintah
KENDATI pas-pasan, tapi Sumiarso memilih enggan mengajukan bantuan kepada dinas terkait di lingkungan Pemkab Sampang. Hal ini, diketahui setelah koran ini menawarkan apakah mengimpikan bantuan.
"Kami khawatir tidak bisa melaksanakan amanah dan kepercayaan pemerintah. Begitu menerima bantuan, otomatis kami mempunyai tanggungjawab," tegasnya.
Menurut dia, sejak dulu hingga kini ia memang belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Maklum saja, yang bersangkutan memang belum pernah mengajukan bantuan dana. "Uang akan menjadi racun jika kita salahgunanakan. Karena itu, mending tidak mendapat bantuan daripada saya lalai," tegasnya.
Dijelaskan, penghasilan yang diperoleh setiap hari tidak menentu. "Kadang saya nol besar dan maksimal Rp 300 ribu sehari. Maklum saja, jumlah pelanggan setiap hari kan tidak pasti. Tapi jika dikurangi dengan biaya penggunaan listrik dan bahan baku lainnya, penghasilan kami sekitar Rp 100 ribu," terangnya.
Kendati kreasi home industry, lanjut dia, ada garansi 1 tahun yang diberikan kepada pelanggan. "Artinya, barang-barang yang sudah saya perbaiki bisa bertahan sampai setahun. Kalau belum setahun rusak, bisa dikembalikan guna diperbaiki. Yang jelas, saya mengedepankan kualitas dan kepuasan pelanggan," janjinya.
Dituturkan, ia mengaku bekerja mulai pukul 07.00 hingga pukul 16.00. Ongkos barang yang sudah diperbaiki, nominalnya tidak sama. "Sebab, acuannya harus melihat pada tingkat kerusakan dan jumlah bahan baku yang dihabiskan. "Biasanya, ongkos yang saya patok antara Rp 5 ribu sampai Rp 150 ribu," pungkasnya. (hariyanto/ed)
sumber Klik disini
Mengenal Sumiarso, Pandai Besi asal Kampung Kranggan, Kota Sampang
Jika ditilik dari silsilah keluarga, Sumiarso merupakan generasi ketiga dari keluarga yang berprofesi pandai besi. Sebab sebelumnya, Dra'i kakeknya dan ayahandanya Indro dikenal sebagai pandai besi ulung di Kota Bahari. Kendati profesi yang ditekuni berasal dari pendahulunya, Sumiarso enggan menularkan ilmu dan kepiawaiannya mereparasi beraneka ragam peralatan dari besi tersebut kepada anak-anaknya. Mengapa?
HARIYANTO, Sampang
BAGI pelanggan setia Sumiarso, tentunya tidak terlalu sulit mendatangi 'kantornya'. Sebab, lokasinya persis berada di belakang rumah makan di Jalan Jamaluddin. Atau persisnya di sebelah selatan kantor Pemkab Sampang.
Tapi bagi mereka yang belum pernah ke lokasi sama sekali, mungkin akan sedikit bingung. Maklum saja, tempat reparasi pandai besi ini berada di tengah-tengah sawah.
Dari kejauhan, mungkin masyarakat tidak menyadari bahwa ‘gubuk' yang ditempati Sumiarso merupakan pusat reparasi beragam alat pertanian dan pertukangan. Tapi jika mendekat, siapapun akan sadar bahwa bapak tujuh anak ini sedang sibuk memperbaiki cangkul, arit, linggis, kapak, dan mata pisau bajak sawah.
Bahkan saat koran ini ke lokasi, tampak beberapa orang yang diketahui pelanggan Sumiarso. Mereka tampak sabar menunggu di kursi yang memang tersedia.
Setiap hari, raungan mesin gerinda elektronik mengeluarkan letupan kembang api menghiasi hari-hari warga Jalan Merpati, Kampung Kranggan, Kelurahan Gunong Sekar, Kecamatan Kota Sampang tersebut. Termasuk suara dentang yang lumayan nyaring saat palu yang diayun beradu dengan besi alas (parron).
Kendati tidak menggunakan kacamata pelindung dan sarung tangan pengaman, suami Sumiati ini tampak sigap membalikkan besi yang dibenamkan di tungku pemanas. Setelah dirasa cukup panas, Sumiarso kemudian mengambil lempengan besi dan meratakannya dengan palu aneka bentuk. Beberapa saat kemudian, lempengan besi berbentuk cangkul tersebut dicelupkan ke bak berisi air dan oli. Begitu didinginkan, bagian depan cangkul tersebut lalu dipertajam menggunakan mesin gerinda.
Saat melakoni profesinya, Sumiarso dibantu seorang asistennya yang notebene kakak kandungnya yang bernama Muayyanah. "Saya orangnya sangat hati-hati dalam bekerja. Sebab, ini sudah menyangkut kepuasan pelanggan. Kalau pekerjaan saya kurang bagus, tentunya pelanggan kecewa," ujarnya.
Menurut kakek yang dikarunia seorang cucu ini, pekerjaan tersebut digeluti sejak ia duduk di bangku kelas II SD atau saat berusia 8 tahun. Saat itu, ia diajari ilmu pandai besai dari ayahnya. "Setelah sekian tahun belajar, pada usia 25 tahun saya akhirnya dianggap bisa meneruskan usaha bapak. Jadi, profesi yang kami tekuni merupakan warisan leluhur," ceritanya.
Dibanding dulu, lanjut dia, peralatan yang digunakan guna mendukung pekerjaan tersebut terbilang lebih modern. Sebab ketika diajari ayahnya, ia dulu menggunakan pompa manual guna memanaskan tungku. "Tapi karena teknologi sekarang sudah canggih, tahun 2002 kami menggunakan kipas angin biar lebih cepat," katanya.
Guna memperlancar pekerjaannya, ada beberapa bahan-baku yang digunakan. Misalnya arang, oli, air, pompa angin. Termasuk, mesin penajam besi. "Dibanding dulu, durasi pekerjaannya lebih cepat. Tapi, harus konsentrasi dan menggunakan dengan hati-hati agar lempengan besi tidak dilubangi api," ingatnya.
Dalam kesempatan ini, ia menegaskan tidak akan mewariskan ilmu pandai besi kepada putranya. Sebab, ia menilai pekerjaan tersebut sangat berat. "Saya akan berhenti setelah tidak ada pelanggan. Artinya, saya akan berhenti kalau hasil kerja saya sudah tidak diminati lagi oleh pelanggan," tegasnya ketika ditanya kapan pensiun. (hariyanto/ed)
Enggan Mengajukan Bantuan ke Pemerintah
KENDATI pas-pasan, tapi Sumiarso memilih enggan mengajukan bantuan kepada dinas terkait di lingkungan Pemkab Sampang. Hal ini, diketahui setelah koran ini menawarkan apakah mengimpikan bantuan.
"Kami khawatir tidak bisa melaksanakan amanah dan kepercayaan pemerintah. Begitu menerima bantuan, otomatis kami mempunyai tanggungjawab," tegasnya.
Menurut dia, sejak dulu hingga kini ia memang belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Maklum saja, yang bersangkutan memang belum pernah mengajukan bantuan dana. "Uang akan menjadi racun jika kita salahgunanakan. Karena itu, mending tidak mendapat bantuan daripada saya lalai," tegasnya.
Dijelaskan, penghasilan yang diperoleh setiap hari tidak menentu. "Kadang saya nol besar dan maksimal Rp 300 ribu sehari. Maklum saja, jumlah pelanggan setiap hari kan tidak pasti. Tapi jika dikurangi dengan biaya penggunaan listrik dan bahan baku lainnya, penghasilan kami sekitar Rp 100 ribu," terangnya.
Kendati kreasi home industry, lanjut dia, ada garansi 1 tahun yang diberikan kepada pelanggan. "Artinya, barang-barang yang sudah saya perbaiki bisa bertahan sampai setahun. Kalau belum setahun rusak, bisa dikembalikan guna diperbaiki. Yang jelas, saya mengedepankan kualitas dan kepuasan pelanggan," janjinya.
Dituturkan, ia mengaku bekerja mulai pukul 07.00 hingga pukul 16.00. Ongkos barang yang sudah diperbaiki, nominalnya tidak sama. "Sebab, acuannya harus melihat pada tingkat kerusakan dan jumlah bahan baku yang dihabiskan. "Biasanya, ongkos yang saya patok antara Rp 5 ribu sampai Rp 150 ribu," pungkasnya. (hariyanto/ed)
sumber Klik disini
Posting Komentar
Untuk informasi lebih lanjut
hubungai segera
sobat evolusi.net
Jl. Imam Bonjol 21 H
Sampang-Madura-Jawa Timur-Indonesia 69212
email : sampang.bahari@yahoo.com