Kepala Sekolah Jarang Masuk Diduga Selewengkan Dana BOS

Sampang, Patroli.

Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar membaca, menulis dan berhitung lebih dari itu sekolah adalah tempat untuk mengembangkan diri. Untuk mendidik anak bangsa bukanlah hal yang mudah apalagi yang ada di daerah pelosok, guru yang bertugas disana memiliki tantangan dan tanggung jawab yang jauh lebih besar, karena itu seorang guru harus benar-benar memberi contoh yang sebaik-baiknya, apalagi sebagai guru yang tugasnya di pelosok.

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, tugas guru adalah sebuah pengabdian, tugas di daerah pelosok merupakan tanggung jawab seorang guru, berilah teladan kepada peserta didik, misalnya dalam kedisiplinan jangan sampai datang terlambat, tumbuhkan motivasi belajar dalam diri siswa dan hendaknya membuat pembelajar lebih bermakna agar peserta didik lebih terpacu untuk terus belajar dan mengembangkan dirinya.

Bukan malah sebaliknya seperti apa yang dikeluhkan oleh warga masyarakat Birem khususnya wali murid SDN Birem III Tambelangan. Bahwa menurut warga yang tidak mau disebutkan namanya kepala sekolah SDN Birem III (Drs Moh Isro’ MSi) selama 13 tahun menjabat beliau jarang masuk sekolah, bahkan warga disini banyak yang tidak kenal kepada Pak Isro� karena ketidakaktifannya dalam melaksanakan tugas sebagai kepala sekolah. Selama 13 tahun hanya 2 kali ada bantuan pembelian seragam termasuk kaos olahraga yang diberikan kepada murid/siswa.

Sedangkab lokal yang ada hanya 2 kelas dan itupun menampung kelas 1 sampai kelas 6 dengan jumlah murid 208 siswa, jumlah tenaga pengajarnya 10 guru dan yang sangat memprihatinkan lagi, satu ruang kelas sama sekali tidak ada mobelairnya. Jadi murid harus rela bersimpuh dalam melaksanakan kegiatan belajar setiap harinya, juga pintunya sudah rusak padahal dana BOS yang diperoleh tiap bulannya sebesar Rp 4.680.000,-

Juga yang terjadi di SDN Somber V Tambelangan, menurut warga di sekitar SD tersebut kepala sekolahnya (Pakan Bulaman) juga jarang masuk apalagi menyangkut hari pasaran Tambelangan yaitu hari Senin dan Jum’at. Karena pada hari itu adalah hari paling ramai orang berkunjung ke pasar dan berbelanja, maka dari itu hari Senin dan Jum�at dijadikan hari untuk berjualan atau bisnis sampingan di luar kewajiban menjadi kepala sekolah yang seharusnya aktif dalam melaksanakan tugas.

Selama 3 tahun Bapak Bulaman menjabat kepala sekolah SDN Somber V Tambelangan, dana BOS tidak jelas, bahkan yang mulai aktif atau kadang masuk sekolah sejak pergantian Bupati Noer Tjahja pernah murid dibelikan seragam setahun 2 kali termasuk seragam olahraga dan sepatu 1 kali,” tutur warga kepada Patroli.

Adapun jumlah lokal yang ada di SDN Somber V hanya ada tiga ruang itupun untuk menampung murid kelas 1 sampai kelas 6, sedangkan jumlah murid sebanyak 273 siswa dan jumlah guru 8 orang, padahal dana BOS yang didapat tiap bulan sebesar Rp 6.142.000,-

Maka dari itu pemerintah harus ikut andil dan memantau perkembangan di bidang pendidikan khususnya di pelosok desa. Agar pihaknya tahu persis bagaimana dan apa yang sebenarnya terjadi di lokasi pendidikan yang ada di pelosok, terutama menyangkut dana BOS dan kesejahteraan anak didik. Apakah para pengawas sudah bekerja semaksimal mungkin sehingga di pelosok masih ada kejadian seperti itu ?

Setelah Patroli mendatangi kedua kepala sekolah tersebut saat di kediamannya, keduanya beranggapan semua apa yang ayang dikeluhkan warga/masyarakat tidaklah benar dan juga laporan masyarakat dianggap hanya kabar angin belaka. Bahkan kedua kepala sekolah tersebut sudah berjalan dengan prosedur yang ada termasuk meningkatkan kesejahteraan para anak didik.

Sedangkan yang diharapkan oleh masyarakat di sekitar SDN tersebut adalah pertanggung jawabannya seorang guru dan sejauh mana profesionalnya guru berkewajiban untuk membangun dan mendidik putra putri penerus bangsa. (dar)

Sumber Klik disini
0 Responses

Posting Komentar

Untuk informasi lebih lanjut
hubungai segera
sobat evolusi.net
Jl. Imam Bonjol 21 H
Sampang-Madura-Jawa Timur-Indonesia 69212
email : sampang.bahari@yahoo.com