JK-Win dan SBY-Boediono Rebutan Kiai NU Jatim

Surabaya - Perebutan suara di kantong-kantong Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Timur (Jatim) diprediksi bakal marak dilakukan pasangan capres-cawapres Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) dan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (SBY-Boediono). Mereka bakal sama-sama menggandalkan kekuatan figur NU yang dianggap mampu mengumpulkan massa warga nadliyin.

Wakil Sekretaris DPD Partai Demokrat (PD) Jatim, Yunianto Wahyudi mengatakan, mengingat mayoritas warga Jatim adalah nahdliyin yang patuh kepada kiainya. Untuk memenangkan SBY-Boediono, pihaknya akan mengumpulkan kiai-kiai NU yang dulunya mengusung pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) pada waktu pilgub Jatim lalu. “Meski figur ketua PBNU bakal memberikan dukungan kepada JK-Wiranto, NU memiliki kedewasaan dan tidak serta merta Pak Hasyim mampu menggeret institusinya itu untuk dukung mendukung salah satu calon,” katanya, di Surabaya, Selasa (19/5).

Menurutnya, Ketua Umum PPP Suryadharma Ali akan diturunkan langsung untuk meyakinkan kiai-kiai besar PPP, seperti KH Alawi Muhammad (Sampang) dan KH Fawaid As’ad (Situbondo) agar mendukung SBY-Boediono. “Ini sebagai salah satu strategi mengantisipasi isu yang bakal menyerang SBY-Boediono non NU yang akan dikembangkan lawan politik SBY,” jelas Yunianto.

Anak buah SBY ini berpendapat, meski demikian, tim sukses SBY-Boediono di Jatim masih belum terbentuk. Rencananya, kemarin malam, parpol pengusung bertemu untuk menentukan strategi pemenangan. “Nanti malam (kemarin), kami akan bertemu bersama parpol pengusung untuk mencari langkah yang tepat,” ujarnya. Yunianto yang juga aktivis HMI mengatakan, tim pemenangan SBY-Boediono bakal memprioritaskan daerah-daerah yang memiliki jumlah penduduk di atas satu juta jiwa. Yakni, Surabaya, Jember dan Malang Raya.

Di pihak lain, tidak kalah dengan tim SBY-Boediono, Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jatim, Sabron Jamil Pasaribu menyatakan, dukungan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan ulama di Jatim kepada calonnya (JK-Wiranto) bakal memberikan suara yang signifikan. Terutama di kawasan Tapal Kuda dan Madura. Di daerah tersebut, kebanyakan warga nahdliyin tinggal.

Selain itu, JK-Wiranto akan mengangkat isu ‘lebih cepat lebih baik’ untuk implementasi program kerjanya nanti. ‘Lebih cepat lebih baik’, Sabron menjelaskan, bisa diimplementasikan dalam penanganan percepatan pengentasan kemiskinan dan pengangguran. “Masyarakat kita tidak bisa hanya tebar pesona saja, mereka butuh tindakan penyelesaian masalah cepat,” kata Sabron di Surabaya, Selasa, (19/5).

Di pihak lain, Sekretaris DPD PDIP Jatim, Kusnadi berpendapat, dalam penggalangan massa, tim sukses Mega-Prabowo berbeda dengan penggalangan massa yang dibangun JK-Wiranto maupun SBY-Boediono. “Kami tidak memilih personal untuk menggalang massa. Karena, apabila personal itu pergi, maka akan mati,” kata Kusnadi, di kantor DPRD Jatim, Jalan Indrapura, Surabaya, Selasa (19/5).

Kusnadi menjelaskan, PDIP, akan melakukan kerja secara bersama-sama mulai dari struktur pengurus dan caleg-calegnya serta menunggu tim dari luar yang ikut bergabung. PDIP akan mengoptimalkan kembali posko-posko pada pileg kemarin. Daerah yang diprioritaskan, Kusnadi menambahkan, yakni yang menjadi kantong-kantong suara PDIP. Misalnya, di daerah Mataraman, Madiun, Magetan, Tulungagung, Kediri, Mojokerto, Jombang, Ngawi dan Kota Madiun.

Sedangkan suara PDIP di Surabaya sempat kalah dari PD pada pileg kemarin, bakal menjadi pertarungan hidup mati partai pimpinan Megawati itu. Pada pemilu 2004 lalu, suara PDIP di kota pahlawan ini mencapai 380.000 suara, tapi pada pileg 2009, tidak mencapai 200.000 suara. Untuk pembentukan tim sukses, Kusnadi pun mlanjutkan, masih menunggu perintah dari tim Mega-Prabowo di Jakarta. ”Pada prinsipnya, kami sedia, kapanpun diperintahkan untuk bergerak, kami langsung bergerak,” tambahnya.

Kusnadi berpendapat, untuk kerja tim nantinya, tim dipisah antara tim dari PDIP dan Gerindra. Pemisahan ini dianggap lebih efektif dibandingkan penggabungan. Strategi ini sama dengan yang dilakukan PDIP tatkala mengusung cagub Soetjipto-Ridwan Hisyam. ”Basis PDIP dan Gerindra hampir sama. Saya kira, lebih baik dipisah daripada digabung. Kalau dipisah kan bisa tahu basis massa masing-masing yang digarap,” ujarnya.

Simpati Mega-Pro di Jatim
POS pemenangan duet Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto (Mega-Pro) mulai bermunculan di sejumlah daerah di Jatim, meski tim pemenangan di daerah belum terbentuk. Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris PDI P Jatim, di Surabaya, Selasa (19/5). ”Gerakan pendirian posko itu spontanitas dari para kader PDIP dan masyarakat yang punya simpati besar terhadap pencapresan Mega-Prabowo. PDIP Jatim sendiri belum mengeluarkan perintah karena tim belum terbentuk,” kata Kusnadi.

Ia menjelaskan, sudah mendapat laporan tentang munculnya sejumlah posko Mega-Pro tersebut di Madiun dan Blitar. Di Madiun misalnya, posko mirip pos ronda itu didirikan di beberapa titik strategis, mulai dari Jl Wuni (Kelurahan Kejuron), Jl Salak, Jl Josenan, Jl Lombok (Kecamatan Taman), dan Jl Manggamulya (Kecamatan Kertoharjo). Semua posko ditandai dengan gambar poster besar bergambar Megawati-Prabowo. “Bagi kami, yang terpenting dari pada pendirian posko itu adalah makna kegotong-royongannya,” jelasnya.

Posko-posko yang didirikan para relawan tersebut, Dia mengatakan, nantinya dimaksimalkan dengan kegiatan pemenangan. “Detailnya segera kami rumuskan. Yang pasti arahnya, untuk koordinasi antara relawan, pusat kegiatan gotong royong dan bakti sosial, sampai pos layanan. Jangan sampai posko cuma jadi tempat cangkrukan,” kata Kusnadi.

Menurutnya, tim pemenangan Mega-Pro di Jatim direncanakan sudah bisa terbentuk dalam pekan ini. “Sekarang DPD (PDIP Jatim -red) dipanggil ke Jakarta untuk rapat bersama dengan tim DPP, membahas desain gerakan pemenangan yang nantinya akan ditindak lanjuti di daerah,” tambah Kusnadi.

Sementara itu, PDIP mensinyalir ada klaim bahwa pembangunan jembatan Suramadu tersebut merupakan hasil karya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat. “Jangan sampai diklaim begitu,” kata Wakil Bendahara DPD PDIP Jatim, Bambang Suhartono.

Bambang berpendapat, klaim itu menguat menjelang piplres 8 Juli 2009, apalagi jembatan itu penghubung Surabaya dengan Madura itu diresmikan 10 Juni. Ketua Komisi D DPRD Jatim ini menjelaskan, rencana pembangunan Suramadu muncul sejak Soeharto berkuasa. Kemudian, proses pembangunan jembatan terpanjang di Indonesia ini diteruskan pada masa BJ Habibie dan Gus Dur. Baru pada masa Megawati, pembangunan jembatan itu dimulai. (OFS)

sumber klik disini
Picture |
0 Responses

Posting Komentar

Untuk informasi lebih lanjut
hubungai segera
sobat evolusi.net
Jl. Imam Bonjol 21 H
Sampang-Madura-Jawa Timur-Indonesia 69212
email : sampang.bahari@yahoo.com